Selasa, 14 Maret 2017

Selektifitas Alat Tangkap Trawl dan Jaring Insang

Alat penangkapan ikan sebagai sarana utama dalam usaha perikanan tangkap diatur sedemikian rupa sehingga tidak berdampak negatif pada pengguna sumberdaya perikanan dan lingkungan perairan serta pengguna jasa perairan lainnya. Penggunaan alat penangkapan ikan harus memperhatikan keseimbangan dan meminimalkan dampak negatif bagi biota lain. Hal ini menjadi penting untuk dipertimbangkan mengingat hilangnya biota dalam struktur ekosistem akan mempengaruhi secara keseluruhan ekosistem yang ada. Radarwati (2010) menjelaskan bahwa kesalahan dalam mengantisipasi dinamika alat tangkap juga telah menyebabkan punahnya sumberdaya ikan
Menurut Monintja (2001) kriteria teknologi penangkapan ikan memiliki beberapa aturan penting, yaitu: 1 selektifitas yang tinggi; tidak membahayakan nelayan; tidak destruktif terhadap nelayan; produksinya berkualitas; produknya tidak membahayakan konsumen; bycatch dan discard minimum; tidak menangkap spesies yang dilindungi atau terancam punah; dampak minimum terhadap keanekaragaman hayati; dapat diterima secara sosial.(Nanlohy, 2013).
Selekivitas alat tangkap adalah kemampuan menentukan sasaran dalam menangkap ikan menurut jenis, kelamin, dan ukuran atau kombinasi ketiganya selama proses penangkapan dan memungkinkan semua hasil tangkapan non target diloloskan tanpa cidera (FAO, 1995; Hufiadi dan Mahiswara, 2009).
Selain itu, dikatakan juga bahwa selektivitas alat tangkap adalah fungsi alat tangkap untuk menangkap ikan yang terbatas pada jenis dan ukuran ikan tertentu pada suatu populasi yang ditemui di daerah penangkapan atau status populasi (Arimoto, 1999; Ferno & Olsen, 1994). Berdasarkan pada hasil penelitian Dwiponggo et al. (1986).

 A.    ALAT TANGKAP TRAWL

Sejak tahun 1969 armada penangkapan trawl telah banyak digunakan untuk menangkap udang secara komersial di Indonesia dan mulai berkembang pesat pada tahun 1970-an. Melalui Keppres No.39 tahun 1980, pemerintah telah  melarang pengoperasian jaring trawl sehingga banyak  nelayan memodifikasi jaring trawl menjadi lebih kecil atau dikenal dengan nama mini trawl. Jaring trawl berbent uk kant ong dan pengoperasiannya dengan cara ditarik (towing) oleh sebuah kapal bermotor dengan menggunakan alat pembuka mulut jaring yang disebut gawang (beam) atau sepasang papan pembuka (otterboard), dapat pula ditarik oleh dua buah kapal bermotor. Pada umumnya jaring trawl terdiri atas sayap, badan, kantong, dan sisi jaring, ditarik horisontal di dalam air sehingga tahanan dari air menyebabkan mulut jaring terbuka. Dalam mulut jaring yang dibatasi oleh tali ris atas dan bawah ini, ikan-ikan dan makhluk lain yang menjadi tujuan penangkapan dapat masuk bersama air yang tersaring (Suhariyanto & Purnomo,2005).
  
Perspektif open access pada dasarnya tidak mengenal ada batas eksploitasi sumber daya perikanm oleh siapa pun dengan jenis alat tangkap apa pun (Koesnadi 2002).Kendati pemerintah telah mengeluarkan Kepres 39 tahun 1980 yang melarang penggunaan trawl, penggunaan berbagai alat tangkap trawl masih rnerajalela di perairan. Juvenile dan trash fish seperti ubur-ubur, bintang laut, dan kekerangan yang ikut tertangkap trawl dan sejenisnya dibuang kembali ke laut dalam keadaan mati dan diistilahkan sebagai discards (buangan) dan buangan dapat berdampak buruk terhadap sumber daya dan lingkungan (Pascoe, 1997).
Perikanan Nomor PER.02/MEN/2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Repbulik Indonesia sebagai berikut :
Jenis-jenis Alat Tangkap Ikan Pukat Hela (trawls)
A. Pukat Hela Dasar (bottom trawls)
(1) Pukat Hela Dasar Berpalang (beam trawls) ,(2) Pukat Hela Dasar Berpapan (otter trawls) , (3) Pukat Hela Dasar Dua Kapal (pair trawls), (4) Nephrops Trawls dan, (5) Pukat Hela Dasar Udang (shrimp trawls), berupa pukat udang
B.Pukat Hela Pertengahan (midwater trawls)
(1) Pukat Hela Pertengahan Berpapan (otter trawls), berupa pukat ikan, (2) Pukat Hela Pertengahan Dua Kapal (pair trawls), (3) Pukat Hela Pertengahan Udang (shrimp trawls)
C. Pukat Hela Kembar Berpapan (otter twin trawls)
D. Pukat Dorong

Analisis data alat tangkap trawl

Dalam survei dengan metode swept area, kemampuan tangkap catchability) jaring trawl serta kemampuan ikan untuk melolosakan diri (escapment factor) dari alat tangkap trawl tentunya dapat diestimasi. Perhitungan estimasi dapat dilakukan dengan pengoperasian jaring trawl dasar bersamaan dengan pengamatan metode akustik. Penggunaan dua metode tersebut diharapkan akan mengungkapkan kelebihan dan kekurangan dari metode swept area dengan jaring trawl dasar (Shevelev et al., 1998), sehingga akan saling melengkapi dan meningkatkan akurasi dari estimasi stok sumberdaya ikan demersal di suatu perairan (Bez et al., 2007; Priatna et. al., 2014).
Pembukaan mulut jaring trawl ke samping (horizontal opening) dihitung dengan mengasumsikan bahwa jaring trawl berbentuk bangun kerucut pada saat dioperasikan seperti diilustrasikan pada berikut
Gambar 2. Ilustrasi perhitungan pembukaan mulut jaring trawl ke samping.
Gambar 2. Ilustrasi perhitungan pembukaan mulut jaring trawl ke samping.

Bukaan mulut jaring dihitung dengan rumus (Tampubolon & Monintja, 1995):
BB’= (HB-AI)/2 CG = (2 x CC’) + AI
Sin = BB’/AB = CC’/AC DF/CG = DE/CE
DF = (DE/CE) x CG ....................................(1).
dimana:
HB = jarak antara dua warp, diukur 1 meter dari gallows ke arah jaring
CD =  panjang net pendant + otter pendant
DF =  bukaan horizontal mulut jaring
AI =  jarak antar gallows DEF = panjang tali ris atas
AC =  panjang warp   
CG = jarak antara dua otterboard
   
Luas area yang tersapu oleh jaring trawl dihitung dengan (Pauly et al., 1996):
A = DF x V x t ……...……..….....................…... (2)

dimana :
A = luas area yang disapu oleh jaring trawl (m²)
DF = bukaan horizontal mulut jaring (m)
V = kecepatan kapal (m/detik)
t = waktu penarikan jaring trawl (detik)

Bukaan vertikal (vertical opening) dihitung dengan persamaan (FAO, 1990):
Vo = 2 x N x a x 0,05  ……….....…............…....(3)

Volume air  yang tersaring diperoleh dengan menggunakan persamaan:
Va = A x Vo (Mustofa, 2004) ……...…................ (4)
dimana :
Va = Volume air yang tersaring (m³)
A = luas sapuan jaring trawl (m)
Vo = bukaan vertikal dari mulut jaring (m)2

Data tangkapan ikan hasil pengoperasian jaring trawl diolah dengan persamaan-persamaan pada metode swept area untuk mendapatkan nilai densitas dalam jumlah individu ikan per satuan volume (n/m) yaitu seperti berikut:
DT = n/Va ..………………..................……...…... (5)
dimana :
D= Densitas ikan demersal hasil trawl (individu/m³)
n = estimasi jumlah individu ikan hasil tangkapan trawl (ekor)

  Kemampuan Daya Tangkap Trawl (Catchability)
Perbandingan nilai densitas dari kedua metode, dapat digunakan untuk estimasi koefisien kemampuan menangkap (catchability) dari jaring trawl yang digunakan dengan formula yang dikembangkan oleh Kotwicki et al. (2013), yaitu
…..……. (6)
Dimana:
SA,Bti = NASC trawl  = NASC yang belum terkoreksi
Di = NASC akustik pada ADZ = ketinggian BSZ (offset)
EFH = ketinggian headrope
Rq = catchability
Eei = galat sisa

Dengan modifikasi nilai densitas dan transfomasi-log maka diperoleh persamaan linier untuk mendapatkan nilai catchability trawl, seperti rumus berikut:
log DT = a + b log DA + e ….……………. (7)
dimana:
DT= densitas ikan hasil tangkapan jaring trawl
DA= densitas ikan hasil pengamatan akustik yang sudah terkoreksi DADZ
a = i ntercept (di abai kan bi l a ni l ai nya tidak signifikan)
b = catchability  (kemampuan daya tangkap)
e =galat, yaitu sisa densitas ikan pada area sapuan trawl, tetapi tidak dapat tertangkap akibat faktor-faktor lain yang belum dapat dijelaskan pada penelitian

B.     ALAT TANGKAP JARING INSANG

Jaring insang (gill net) merupakan alat tangkap dengan kontruksi utama berupa jaring (webbing). Bentuknya adalah lembaran jaring empat persegi panjang dengan ukuranmata jaring yang sama pada keseluhuhannya. Pada umumnya ikan tertangkap dengan cara tersangkut di bagian insangnya. Jaring insang tergolong alat tangkap ikan yang pasif. Jaring dioperasikan pada sekitar rumpon atau daerah penangkapan yang cocok. Setelah jarring ditawur (setting), maka akan dibiarkan menghanyut (drift) selama 4-6 jam. Pengangkatan jaring (haulling) dilakukan sambilmelepas hasil tangkapan yang telah tersangkut. Jaring insang dioperasikan pada malam hari sampai menjelang subuh dengan menggunakan bantuan lampu mercury 500 watt 4 buah. Jaring dipasang (setting) sejauh kurang lebih 1 mil dari rumpon. Lampu dinyalakan pada rumpon, setelah ikan mengumpul, lampu ditarik perlahan menuju ke arah jaring. Kemudian gerombolan ikan diarahkan untuk melewati (menabrak) jaring yang telah terpasang (Erfind Nurdin, 12 Januari 2009).

Alat tangkap jaring insang (gillnet) dasar jaring ini pada awalnya khusus ditujukan untuk menangkap ikan cucut (hiu) jenis nungnang atau liongbun (Rhynchobatus jiddensis). Namun dalam kenyataannya, pengoperasian jaring insang atau liongbun di Laut Jawa justru banyakmenangkap ikan pari, terutama jenis Himatura gerrardi, H. bleekeri, dan Aetoplatea zonura yangmencapai 70% dari total hasil tangkapan. Maka selanjutnya jaring ini seolah- olah khusus ditujukan untuk menangkap ikan pari. Ikan pari yang tertangkap jaring ini pada umumnya tertangkap secara terjerat (gilled) dan terpuntal (entangled). Jaring liongbun terbuat dari bahan nilon multifilamen d-21 dengan ukuranmata jaring (mesh size) 50 cm dan hanging ratio 0,55. Ukuran panjang jaring (ris atas) adalah 65 m dan tinggi jaring 5 m (Gambar 3).
Ciri khusus dari jaring liongbun adalah ukuran mata jaringnya tergolong sangat besar (50 cm) dibanding ukuran mata jaring gillnet biasa digunakan untuk menangkap ikan pelagis besar yang hanya berukuran 10-12,5 cm atau gillnet untuk ikan demersal yang pada umumnya mempunyai ukuran mata 5-7,5 cm. Karena konstruksinya yang khas tersebut, maka jaring liongbun cocok jika dikhususkan untuk menangkap ikan pari yang memang berukuran relatif besar. Jaring liongbun dioperasikan dengan kapal kayu bermotor ukuran 30-90 GT. Setiap kapal mengoperasikan jaring rata-rata 120 tinting (pis) atau panjang sekitar 7.800 m operasi penangkapan dengan menggunakan alat tangkap jaring insang (gill net) dengan ukuran mata jaring (meshsize) yang bervariasi mulai 2, 2,25, 2,5 sampai 3 inci. Ikan yang tertangkap dengan jaring insang tersebut umumnya tertangkap dengan cara terjerat pada mata jaring (mesh size) yang dapat menimbulkan cedera, luka dan stres sehingga mengalami kematian. (Salim dan Hufiadi, 2016).
Jaring insang (gill net) merupakan alat tangkap dengan kontruksi utama berupa jaring (webbing). Bentuknya adalah lembaran jaring empat persegi panjang dengan ukuran mata jaring yang sama pada keseluhuhannya (Nurdin, 2009)
Jaring insang tergolong alat tangkap ikan yang pasif. Jaring dioperasikan pada sekitar rumpon atau daerah penangkapan yang cocok.Setelah jaring ditawur (setting), maka akan dibiarkanmenghanyut (drift) selama 4-6 jam.Pengangkatan jaring (haulling) dilakukan sambilmelepas hasil tangkapan yang telah tersangkut (Nurdin, 2009)
Jaring insang dioperasikan pada malam hari sampai menjelang subuh dengan menggunakan bantuan lampu mercury 500 watt 4 buah. Jaring dipasang (setting) sejauh kurang lebih 1 mil dari rumpon. Lampu dinyalakanpadarumpon, setelah ikan mengumpul, lampu ditarik perlahanmenuju ke arah jaring. Kemudian gerombolan ikan diarahkan untuk melewati (menabrak) jaring yang telah terpasang.(Nurdin, 2009)

Jaring insang permukaan merupakan alat tangkap yang sangat ramah lingkungan. Alat ini mempunyai selektivitas yang tinggi dan tidak berpengaruh terhadap nelayan. Hal ini disebabkan oleh pengoperasiannya menangkap ikan yang sesuai dengan ukuran mata jaring yang digunakan. Jaring insang yang dipergunakan disini adalah berukuran mata 4-7 inc sehingga hanya untuk menangkap ikan pelagis besar (Nanlohy, 2013). 
DISUSUN OLEH:

BHISMO ERDIYANTO
CAMILIA JASMINE S.
NADYA RIZKY A. 
M.ARIF ARAFAT 

ZAHRA AFRANISA