Alat penangkapan ikan sebagai sarana utama dalam
usaha perikanan tangkap diatur sedemikian rupa sehingga tidak berdampak negatif
pada pengguna sumberdaya perikanan dan lingkungan perairan serta pengguna jasa
perairan lainnya. Penggunaan alat penangkapan ikan harus memperhatikan
keseimbangan dan meminimalkan dampak negatif bagi biota lain. Hal ini menjadi
penting untuk dipertimbangkan mengingat hilangnya biota dalam struktur
ekosistem akan mempengaruhi secara keseluruhan ekosistem yang ada. Radarwati
(2010) menjelaskan bahwa kesalahan dalam mengantisipasi dinamika alat tangkap
juga telah menyebabkan punahnya sumberdaya ikan
Menurut Monintja (2001) kriteria teknologi penangkapan
ikan memiliki beberapa aturan penting, yaitu: 1 selektifitas yang tinggi; tidak
membahayakan nelayan; tidak destruktif terhadap nelayan; produksinya
berkualitas; produknya tidak membahayakan konsumen; bycatch dan discard
minimum; tidak menangkap spesies yang dilindungi atau terancam punah;
dampak minimum terhadap keanekaragaman hayati; dapat diterima secara
sosial.(Nanlohy, 2013).
Selekivitas alat tangkap adalah kemampuan menentukan
sasaran dalam menangkap ikan
menurut jenis, kelamin, dan ukuran atau kombinasi ketiganya selama proses
penangkapan dan memungkinkan semua hasil tangkapan non target diloloskan
tanpa cidera (FAO, 1995;
Hufiadi
dan Mahiswara, 2009).
Selain itu, dikatakan juga bahwa selektivitas alat
tangkap adalah fungsi alat tangkap untuk menangkap ikan yang terbatas pada
jenis dan ukuran ikan tertentu pada suatu populasi yang ditemui di daerah
penangkapan atau status populasi (Arimoto, 1999; Ferno & Olsen, 1994). Berdasarkan pada hasil penelitian
Dwiponggo et al. (1986).
A.
ALAT
TANGKAP TRAWL
Sejak
tahun 1969 armada penangkapan trawl telah banyak digunakan untuk
menangkap udang secara komersial di Indonesia dan mulai berkembang pesat pada
tahun 1970-an. Melalui Keppres No.39 tahun 1980, pemerintah telah melarang pengoperasian jaring trawl sehingga
banyak nelayan memodifikasi jaring trawl
menjadi lebih kecil atau dikenal dengan nama mini trawl. Jaring trawl
berbent uk kant ong dan pengoperasiannya dengan cara ditarik (towing)
oleh sebuah kapal bermotor dengan menggunakan alat pembuka mulut jaring yang
disebut gawang (beam) atau sepasang papan pembuka (otterboard),
dapat pula ditarik oleh dua buah kapal bermotor. Pada umumnya jaring trawl terdiri
atas sayap, badan, kantong, dan sisi jaring, ditarik horisontal di dalam air
sehingga tahanan dari air menyebabkan mulut jaring terbuka. Dalam mulut jaring
yang dibatasi oleh tali ris atas dan bawah ini, ikan-ikan dan makhluk lain yang
menjadi tujuan penangkapan dapat masuk bersama air yang tersaring (Suhariyanto
& Purnomo,2005).
Perspektif open access pada dasarnya tidak mengenal
ada batas eksploitasi sumber daya perikanm oleh siapa pun dengan jenis alat
tangkap apa pun (Koesnadi 2002).Kendati pemerintah telah mengeluarkan Kepres 39
tahun 1980 yang melarang penggunaan trawl, penggunaan berbagai alat tangkap
trawl masih rnerajalela di perairan. Juvenile
dan
trash fish seperti ubur-ubur, bintang laut, dan kekerangan yang ikut
tertangkap trawl dan sejenisnya dibuang kembali ke laut dalam keadaan
mati dan diistilahkan sebagai discards (buangan) dan buangan dapat
berdampak buruk terhadap sumber daya dan lingkungan (Pascoe, 1997).
Perikanan
Nomor PER.02/MEN/2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat
Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan
Negara Repbulik Indonesia sebagai berikut :
Jenis-jenis
Alat Tangkap Ikan Pukat Hela (trawls)
A. Pukat Hela Dasar (bottom trawls)
(1) Pukat Hela Dasar Berpalang (beam
trawls) ,(2)
Pukat Hela Dasar Berpapan (otter trawls) , (3)
Pukat Hela Dasar Dua Kapal (pair trawls), (4)
Nephrops Trawls dan,
(5) Pukat Hela Dasar Udang (shrimp
trawls), berupa pukat udang
B.Pukat Hela Pertengahan (midwater
trawls)
(1) Pukat Hela Pertengahan Berpapan
(otter trawls), berupa pukat ikan,
(2) Pukat Hela Pertengahan Dua Kapal
(pair trawls),
(3) Pukat Hela Pertengahan Udang (shrimp
trawls)
C. Pukat Hela Kembar Berpapan (otter twin
trawls)
D. Pukat Dorong
Analisis data alat tangkap trawl
Dalam
survei dengan metode swept area, kemampuan tangkap catchability) jaring trawl
serta kemampuan ikan untuk melolosakan diri (escapment factor) dari alat
tangkap trawl tentunya dapat diestimasi. Perhitungan estimasi dapat dilakukan
dengan pengoperasian jaring trawl dasar bersamaan dengan pengamatan metode
akustik. Penggunaan dua metode tersebut diharapkan akan mengungkapkan kelebihan
dan kekurangan dari metode swept area dengan jaring trawl dasar (Shevelev et
al., 1998), sehingga akan saling melengkapi dan meningkatkan akurasi dari
estimasi stok sumberdaya ikan demersal di suatu perairan (Bez et al., 2007;
Priatna et. al., 2014).
Pembukaan
mulut jaring trawl ke samping (horizontal opening) dihitung dengan
mengasumsikan bahwa jaring trawl berbentuk bangun kerucut pada saat dioperasikan seperti diilustrasikan pada berikut
Gambar 2. Ilustrasi perhitungan pembukaan mulut jaring
trawl ke samping.
Gambar 2. Ilustrasi perhitungan pembukaan mulut jaring
trawl ke samping.
Bukaan mulut jaring dihitung dengan rumus (Tampubolon
& Monintja, 1995):
BB’=
(HB-AI)/2 CG = (2 x CC’) + AI
Sin ⍺ = BB’/AB
= CC’/AC DF/CG = DE/CE
DF
= (DE/CE) x CG ....................................(1).
dimana:
HB = jarak antara dua warp, diukur 1 meter dari gallows
ke arah jaring
CD = panjang net
pendant + otter pendant
DF = bukaan
horizontal mulut jaring
AI = jarak antar gallows
DEF = panjang tali ris atas
AC = panjang warp
CG = jarak antara dua otterboard
Luas area yang tersapu oleh jaring trawl dihitung dengan
(Pauly et al., 1996):
A = DF x V x t ……...……..….....................…... (2)
dimana :
A = luas area yang disapu oleh jaring trawl (m²)
DF = bukaan horizontal mulut jaring (m)
V = kecepatan kapal (m/detik)
t = waktu penarikan jaring trawl (detik)
Bukaan vertikal (vertical opening) dihitung dengan persamaan (FAO, 1990):
Vo = 2 x N x a x 0,05
……….....…............…....(3)
Volume air yang
tersaring diperoleh dengan menggunakan persamaan:
Va = A x Vo (Mustofa, 2004) ……...…................ (4)
dimana :
Va = Volume air yang tersaring (m³)
A = luas sapuan jaring trawl (m)
Vo = bukaan vertikal dari mulut jaring (m)2
Data
tangkapan ikan hasil pengoperasian jaring trawl diolah dengan
persamaan-persamaan pada metode swept area untuk mendapatkan nilai
densitas dalam jumlah individu ikan per satuan volume (n/m) yaitu seperti
berikut:
DT = n/Va ..………………..................……...…... (5)
dimana :
D= Densitas ikan demersal hasil trawl (individu/m³)
n = estimasi jumlah individu ikan hasil tangkapan trawl (ekor)
Kemampuan
Daya Tangkap Trawl (Catchability)
Perbandingan
nilai densitas dari kedua metode, dapat digunakan untuk estimasi koefisien
kemampuan menangkap (catchability) dari jaring trawl yang digunakan
dengan formula yang dikembangkan oleh Kotwicki et al. (2013), yaitu
Dimana:
SA,Bti = NASC
trawl = NASC yang belum terkoreksi
Di = NASC akustik pada ADZ = ketinggian BSZ (offset)
EFH = ketinggian headrope
Rq = catchability
Eei = galat sisa
Dengan
modifikasi nilai densitas dan transfomasi-log maka diperoleh persamaan linier
untuk mendapatkan nilai catchability trawl, seperti rumus berikut:
log DT = a + b log DA + e ….……………. (7)
dimana:
DT= densitas ikan hasil tangkapan jaring trawl
DA= densitas ikan hasil pengamatan akustik yang sudah terkoreksi DADZ
a = i ntercept (di abai kan bi l a ni l ai nya
tidak signifikan)
b = catchability
(kemampuan daya tangkap)
e =galat, yaitu sisa densitas ikan pada area sapuan
trawl, tetapi tidak dapat tertangkap akibat faktor-faktor lain yang
belum dapat dijelaskan pada penelitian
B.
ALAT
TANGKAP JARING INSANG
Jaring insang (gill net) merupakan alat
tangkap dengan kontruksi utama berupa jaring (webbing). Bentuknya adalah
lembaran jaring empat persegi panjang dengan ukuranmata jaring yang sama pada
keseluhuhannya. Pada umumnya ikan tertangkap dengan cara tersangkut di bagian
insangnya. Jaring insang tergolong alat tangkap ikan yang pasif. Jaring
dioperasikan pada sekitar rumpon atau daerah penangkapan yang cocok. Setelah
jarring ditawur (setting), maka akan dibiarkan menghanyut (drift)
selama 4-6 jam. Pengangkatan jaring (haulling) dilakukan sambilmelepas
hasil tangkapan yang telah tersangkut. Jaring insang dioperasikan pada malam
hari sampai menjelang subuh dengan menggunakan bantuan lampu mercury 500 watt 4
buah. Jaring dipasang (setting) sejauh kurang lebih 1 mil dari rumpon.
Lampu dinyalakan pada rumpon, setelah ikan mengumpul, lampu ditarik perlahan
menuju ke arah jaring. Kemudian gerombolan ikan diarahkan untuk melewati
(menabrak) jaring yang telah terpasang (Erfind
Nurdin, 12 Januari 2009).
Alat tangkap jaring insang (gillnet) dasar jaring ini pada awalnya khusus ditujukan untuk menangkap ikan cucut
(hiu) jenis nungnang atau liongbun (Rhynchobatus jiddensis). Namun dalam
kenyataannya, pengoperasian jaring insang
atau liongbun
di Laut Jawa justru banyakmenangkap ikan pari, terutama jenis Himatura
gerrardi, H. bleekeri, dan Aetoplatea zonura yangmencapai 70% dari total hasil tangkapan. Maka selanjutnya jaring ini seolah- olah
khusus ditujukan untuk menangkap ikan pari. Ikan pari yang tertangkap jaring
ini pada umumnya tertangkap secara terjerat (gilled) dan terpuntal (entangled).
Jaring liongbun terbuat dari bahan nilon multifilamen d-21 dengan ukuranmata
jaring (mesh size) 50 cm dan hanging ratio 0,55. Ukuran panjang jaring (ris
atas) adalah 65 m dan tinggi jaring 5 m (Gambar 3).
Ciri
khusus dari jaring liongbun adalah ukuran mata jaringnya tergolong
sangat besar (50 cm) dibanding ukuran mata jaring gillnet biasa digunakan untuk
menangkap ikan pelagis besar yang hanya berukuran 10-12,5 cm atau gillnet untuk
ikan demersal yang pada umumnya mempunyai ukuran mata 5-7,5 cm. Karena
konstruksinya yang khas tersebut, maka jaring liongbun cocok jika dikhususkan
untuk menangkap ikan pari yang memang berukuran relatif besar. Jaring liongbun dioperasikan dengan kapal
kayu bermotor ukuran 30-90 GT. Setiap kapal mengoperasikan jaring rata-rata 120
tinting (pis) atau panjang sekitar 7.800 m operasi penangkapan dengan menggunakan
alat tangkap jaring insang (gill net) dengan ukuran mata jaring (meshsize) yang
bervariasi mulai 2, 2,25, 2,5 sampai 3 inci. Ikan yang tertangkap dengan jaring
insang tersebut umumnya tertangkap dengan cara terjerat pada mata jaring (mesh
size) yang dapat menimbulkan cedera, luka dan stres sehingga mengalami
kematian. (Salim dan Hufiadi, 2016).
Jaring
insang (gill net) merupakan alat tangkap dengan kontruksi utama berupa jaring
(webbing). Bentuknya adalah lembaran jaring empat persegi panjang dengan ukuran mata jaring yang sama pada
keseluhuhannya (Nurdin, 2009)
Jaring
insang tergolong alat tangkap ikan yang pasif. Jaring dioperasikan pada sekitar
rumpon atau daerah penangkapan yang cocok.Setelah jaring ditawur (setting),
maka akan dibiarkanmenghanyut (drift) selama 4-6 jam.Pengangkatan jaring
(haulling) dilakukan sambilmelepas hasil tangkapan yang telah tersangkut (Nurdin,
2009)
Jaring
insang dioperasikan pada malam hari sampai
menjelang subuh dengan menggunakan bantuan lampu mercury 500 watt 4 buah.
Jaring dipasang (setting) sejauh kurang lebih 1 mil dari rumpon. Lampu
dinyalakanpadarumpon, setelah ikan mengumpul, lampu ditarik perlahanmenuju ke
arah jaring. Kemudian gerombolan ikan diarahkan untuk melewati (menabrak)
jaring yang telah terpasang.(Nurdin, 2009)
Jaring
insang permukaan merupakan alat tangkap yang sangat ramah lingkungan. Alat ini
mempunyai selektivitas yang tinggi dan tidak berpengaruh terhadap nelayan. Hal
ini disebabkan oleh pengoperasiannya menangkap ikan yang sesuai dengan ukuran
mata jaring yang digunakan. Jaring insang yang dipergunakan disini adalah
berukuran mata 4-7 inc sehingga hanya untuk menangkap ikan pelagis besar
(Nanlohy, 2013).
DISUSUN OLEH:
BHISMO
ERDIYANTO
CAMILIA
JASMINE S.
NADYA
RIZKY A.
M.ARIF
ARAFAT
ZAHRA
AFRANISA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar